Seperti pada penjelasan awal, Rukun Iman berjumlah enam, yaitu iman kepada Allah, iman kepada malaikat-malaikatNya, iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada kitab-kitabNya, iman kepada hari kiamat, dan terakhir iman kepada Qada dan Qadar. Iman adalah asas, landasan, dan suatu dasar. Sedangkan iman berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah "Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat". Sehingga dapat disimpulkan bahwa rukun Iman adalah landasan atau pedoman pokok suatu keyakinan, yang diikuti oleh perkataan dan perbuatan.
Kadar iman seseorang itu berbeda-beda, perbedaan keimanan itulah yang membedakan setiap kaum mukmin dalam perbuatannya. Namun, Allah berfirman bahwa satu orang yang beriman itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Allah s.w.t itu adalah gaib, malaikatNya juga gaib, Nabi dan Rasul pun kita tak pernah melihatnya, kitab-kitabNya ada, tapi kita tidak tahu benar atau tidak, hari kiamat belum terjadi, dan takdir adalah perkara yang hanya diketahui oleh Allah s.w.t. Karena itu jika seorang mukmin yang mempercayai dan yakin akan keenam rukun Iman tersebut, maka Insya Allah sejelek-jeleknya dia walaupun nanti di hari kiamat dia harus masuk neraka terlebih dahulu, nanti dia akan dimasukkan oleh Allah ke dalam surgaNya. Subhannallah!
Karena itu bagi seseorang yang ingin masuk Islam, maka dia harus mempunyai "mind set" seperti halnya rukun Iman yang enam. Tidak hanya yakin, lisan atau perkataannya, dan perbuatannya juga mencerminkan rukun Iman. Ia berkata Allah itu ada, dan dari perbuatannya juga terlihat bahwa dia yakin bahwa Allah bisa melihatnya kapan pun dan dimana pun jua.
1. Iman kepada Allah s.w.t
Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 hal: Mengimani adanya Allah. Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah. Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua sembahan selain Allah Ta’ala. Mengimani semua nama dan sifat Allah (al-Asma'ul Husna) yang Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yang nabi-Nya tetapkan untuk Allah, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna, mempertanyakan, dan menyerupakanNya.
2. Iman kepada Malaikat-malaikatNya
Mengimani adanya, setiap amalan dan tugas yang diberikan Allah kepada mereka. Yakin bahwa mereka adalah makhluk yang dari nuur atau cahaya yang selalu taat akan perintah Allah s.w.t.
3. Iman kepada Nabi dan Rasul
Mengimani bahwa ada di antara laki-laki dari kalangan manusia yang Allah Ta’ala pilih sebagai perantara antara diri-Nya dengan para makhluknya. Akan tetapi mereka semua tetaplah merupakan manusia biasa yang sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat dan hak-hak ketuhanan, karenanya menyembah para nabi dan rasul adalah kebatilan yang nyata. Wajib mengimani bahwa semua wahyu kepada nabi dan rasul itu adalah benar dan bersumber dari Allah Ta’ala. Juga wajib mengakui setiap nabi dan rasul yang kita ketahui namanya dan yang tidak kita ketahui namanya.
4. Iman kepada Kitab-kitabNya
Mengimani bahwa seluruh kitab Allah adalah ucapan-Nya dan bukanlah ciptaanNya. karena kalam (ucapan) merupakan sifat Allah dan sifat Allah bukanlah makhluk. Muslim wajib mengimani bahwa Al-Qur`an merupakan penggenapan kitab suci terdahulu. Kita juga mengetahui apa saja kitab-kitab tersebut, yaitu Zabur kepada Nabi Daud a.s, Taurat kepada Nabi Musa a.s, Injil kepada Nabi Isa a.s, dan terakhir kita kita yaitu Al Qur'an nul Karim kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ketiga kitab sebelum Al-Qur'an hanya wajib kita imani tidak harus dipelajari. Sedangkan untuk Al-Qur'an maka selain kita beriman, kita juga wajib untuk membaca dan mempelajarinya serta tidak lupa untuk mengamalkannya pada perbuatan kita sehari-hari.
5. Iman kepada Hari Kiamat
6. Iman kepada Qada dan Qadar
Mengimani kejadian yang baik maupun yang buruk, semua itu berasal dari Allah Ta’ala. Karena seluruh makhluk tanpa terkecuali, zat dan sifat mereka begitupula perbuatan mereka adalah ciptaan Allah. Maksudnya kita wajib mengimani bahwa semua yang Allah takdirkan, apakah kejadian yang baik maupun yang buruk, semua itu berasal dari Allah Ta’ala.
Beriman kepada takdir Allah tidak teranggap sempurna hingga mengimani 4 perkara:
a. Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengimani segala sesuatu kejadian, yang baik maupun yang buruk. Bahwa Allah mengetahui semua kejadian yang telah berlalu, yang sedang terjadi, yang belum terjadi, dan semua kejadian yang tidak jadi terjadi seandainya terjadi maka Allah tahu bagaimana terjadinya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan
sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq: 12)
b. Mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan semua takdir makhluk di lauh al-mahfuzh, 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.
Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-’Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Allah telah menuliskan takdir bagi semua makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)
c. Mengimani bahwa tidak ada satupun gerakan dan diamnya makhluk di langit, di bumi, dan di seluruh alam semesta kecuali semua baru terjadi setelah Allah menghendaki. Tidaklah makhluk bergerak kecuali dengan kehendak dan izin-Hya, sebagaimana tidaklah mereka diam dan tidak bergerak kecuali setelah ada kehendak dan izin dari-Nya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kamu tidak dapat menghendaki [mengerjakan sesuatu} kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwir: 29)
d. Mengimani bahwa seluruh makhluk tanpa terkecuali, zat mereka beserta seluruh sifat dan perbuatan mereka adalah makhluk ciptaan Allah. Allah Ana wa Jalla berfirman:
“Allah menciptakan segala sesuatu.” (Az-Zumar: 62)
Sudah sepatutnya, manusia yang beriman maka perilakunya akan mencerminkan Rukun Iman seluruhnya, jika hilang satu saja dari keenam rukun iman tersebut, maka iman tidak lah sempurna.
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah,
“Iman itu ada 70 atau 60-an cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘la ilaha illallah’, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu (juga) merupakan bagian dari iman.” — HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35.
Perkataan ‘Syahadat’ menunjukkan bahwa iman harus dengan ucapan di lisan. Menyingkirkan duri dari jalan menunjukkan bahwa iman harus dengan amalan anggota badan. Sedangkan sifat malu menunjukkan bahwa iman harus dengan keyakinan dalam hati, karena sifat malu itu di hati. Inilah dalil yang menunjukkan bahwa iman yang benar hanyalah jika terdapat tiga komponen di dalamnya yaitu (1) keyakinan dalam hati, (2) ucapan di lisan, dan (3) amalan dengan anggota badan. Maka tanpa adanya amalan, meskipun ada keyakinan dan ucapan, tidaklah disebut beriman.
No comments:
Post a Comment