Islam Agamaku

Islam Agamaku

Friday, 12 August 2016

Rukun Iman

Seperti pada penjelasan awal, Rukun Iman berjumlah enam, yaitu iman kepada Allah, iman kepada malaikat-malaikatNya, iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada kitab-kitabNya, iman kepada hari kiamat, dan terakhir iman kepada Qada dan Qadar. Iman adalah asas, landasan, dan suatu dasar. Sedangkan iman berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah "Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat". Sehingga dapat disimpulkan bahwa rukun Iman adalah landasan atau pedoman pokok suatu keyakinan, yang diikuti oleh perkataan dan perbuatan.

Kadar iman seseorang itu berbeda-beda, perbedaan keimanan itulah yang membedakan setiap kaum mukmin dalam perbuatannya. Namun, Allah berfirman bahwa satu orang yang beriman itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Allah s.w.t itu adalah gaib, malaikatNya juga gaib, Nabi dan Rasul pun kita tak pernah melihatnya, kitab-kitabNya ada, tapi kita tidak tahu benar atau tidak, hari kiamat belum terjadi, dan takdir adalah perkara yang hanya diketahui oleh Allah s.w.t. Karena itu jika seorang mukmin yang mempercayai dan yakin akan keenam rukun Iman tersebut, maka Insya Allah sejelek-jeleknya dia walaupun nanti di hari kiamat dia harus masuk neraka terlebih dahulu, nanti dia akan dimasukkan oleh Allah ke dalam surgaNya. Subhannallah!

Karena itu bagi seseorang yang ingin masuk Islam, maka dia harus mempunyai "mind set" seperti halnya rukun Iman yang enam. Tidak hanya yakin, lisan atau perkataannya, dan perbuatannya juga mencerminkan rukun Iman. Ia berkata Allah itu ada, dan dari perbuatannya juga terlihat bahwa dia yakin bahwa Allah bisa melihatnya kapan pun dan dimana pun jua.

1. Iman kepada Allah s.w.t

Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 hal: Mengimani adanya Allah. Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah. Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua sembahan selain Allah Ta’ala. Mengimani semua nama dan sifat Allah (al-Asma'ul Husna) yang Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yang nabi-Nya tetapkan untuk Allah, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna, mempertanyakan, dan menyerupakanNya.

2. Iman kepada Malaikat-malaikatNya

Mengimani adanya, setiap amalan dan tugas yang diberikan Allah kepada mereka. Yakin bahwa mereka adalah makhluk yang dari nuur  atau cahaya yang selalu taat akan perintah Allah s.w.t.

3. Iman kepada Nabi dan Rasul

Mengimani bahwa ada di antara laki-laki dari kalangan manusia yang Allah Ta’ala pilih sebagai perantara antara diri-Nya dengan para makhluknya. Akan tetapi mereka semua tetaplah merupakan manusia biasa yang sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat dan hak-hak ketuhanan, karenanya menyembah para nabi dan rasul adalah kebatilan yang nyata. Wajib mengimani bahwa semua wahyu kepada nabi dan rasul itu adalah benar dan bersumber dari Allah Ta’ala. Juga wajib mengakui setiap nabi dan rasul yang kita ketahui namanya dan yang tidak kita ketahui namanya.

4. Iman kepada Kitab-kitabNya

Mengimani bahwa seluruh kitab Allah adalah ucapan-Nya dan bukanlah ciptaanNya. karena kalam (ucapan) merupakan sifat Allah dan sifat Allah bukanlah makhluk. Muslim wajib mengimani bahwa Al-Qur`an merupakan penggenapan kitab suci terdahulu. Kita juga mengetahui apa saja kitab-kitab tersebut, yaitu Zabur kepada Nabi Daud a.s, Taurat kepada Nabi Musa a.s, Injil kepada Nabi Isa a.s, dan terakhir kita kita yaitu Al Qur'an nul Karim kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ketiga kitab sebelum Al-Qur'an hanya wajib kita imani tidak harus dipelajari. Sedangkan untuk Al-Qur'an maka selain kita beriman, kita juga wajib untuk membaca dan mempelajarinya serta tidak lupa untuk mengamalkannya pada perbuatan kita sehari-hari.

5. Iman kepada Hari Kiamat

Mengimani semua yang terjadi di alam barzakh (di antara dunia dan akhirat) berupa fitnah kubur (nikmat kubur atau siksa kubur). Mengimani tanda-tanda hari kiamat. Mengimani hari kebangkitan di padang mahsyar hingga berakhir di Surga atau Neraka. Hari kiamat atau hari akhir merupakan hari kehidupan terakhir di dunia, di mana dunia yang fana ini akan dihancurkan oleh Allah s.w.t dan diganti dengan bumi yang lain.

6. Iman kepada Qada dan Qadar

Mengimani kejadian yang baik maupun yang buruk, semua itu berasal dari Allah Ta’ala. Karena seluruh makhluk tanpa terkecuali, zat dan sifat mereka begitupula perbuatan mereka adalah ciptaan Allah. Maksudnya kita wajib mengimani bahwa semua yang Allah takdirkan, apakah kejadian yang baik maupun yang buruk, semua itu berasal dari Allah Ta’ala.

Beriman kepada takdir Allah tidak teranggap sempurna hingga mengimani 4 perkara:

a. Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengimani segala sesuatu kejadian, yang baik maupun yang buruk. Bahwa Allah mengetahui semua kejadian yang telah berlalu, yang sedang terjadi, yang belum terjadi, dan semua kejadian yang tidak jadi terjadi seandainya terjadi maka Allah tahu bagaimana terjadinya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan
sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq: 12)

b. Mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan semua takdir makhluk di lauh al-mahfuzh, 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.
Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-’Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Allah telah menuliskan takdir bagi semua makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

c. Mengimani bahwa tidak ada satupun gerakan dan diamnya makhluk di langit, di bumi, dan di seluruh alam semesta kecuali semua baru terjadi setelah Allah menghendaki. Tidaklah makhluk bergerak kecuali dengan kehendak dan izin-Hya, sebagaimana tidaklah mereka diam dan tidak bergerak kecuali setelah ada kehendak dan izin dari-Nya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kamu tidak dapat menghendaki [mengerjakan sesuatu} kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwir: 29)

d. Mengimani bahwa seluruh makhluk tanpa terkecuali, zat mereka beserta seluruh sifat dan perbuatan mereka adalah makhluk ciptaan Allah. Allah Ana wa Jalla berfirman:
“Allah menciptakan segala sesuatu.” (Az-Zumar: 62)

Sudah sepatutnya, manusia yang beriman maka perilakunya akan mencerminkan Rukun Iman seluruhnya, jika hilang satu saja dari keenam rukun iman tersebut, maka iman tidak lah sempurna.
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah,

“Iman itu ada 70 atau 60-an cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘la ilaha illallah’, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu (juga) merupakan bagian dari iman.” — HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35.

Perkataan ‘Syahadat’ menunjukkan bahwa iman harus dengan ucapan di lisan. Menyingkirkan duri dari jalan menunjukkan bahwa iman harus dengan amalan anggota badan. Sedangkan sifat malu menunjukkan bahwa iman harus dengan keyakinan dalam hati, karena sifat malu itu di hati. Inilah dalil yang menunjukkan bahwa iman yang benar hanyalah jika terdapat tiga komponen di dalamnya yaitu (1) keyakinan dalam hati, (2) ucapan di lisan, dan (3) amalan dengan anggota badan. Maka tanpa adanya amalan, meskipun ada keyakinan dan ucapan, tidaklah disebut beriman.

Tuesday, 12 July 2016

Rukun Iman dan Rukun Islam

Iman adalah kepercayaan. Menurut Ibnu Majah, Nabi pernah bersabda,

"Iman adalah keterikatan antara kalbu, ucapan dan perilaku".

Pada umumnya, orang mengartikan bahwa iman adalah percaya. Cukup kita memercayai keenam rukun iman dan sudah dapat dikatakan sebagai orang yang beriman. Padahal bila kita menurut pada hadist diatas, maka itu menjadi kurang tepat. Selain kita mempercayai keenam rukun iman tersebut, kita juga harus mempraktekannya. Jadi, selain yakin dari lubuk hati, perkataan kita pun harus sesuai dengan rukun iman. Begitu pula perilaku kita, tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan rukun iman.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Q.S. Al-Baqarah (2): 165.

Rukun Iman ada 6, yaitu:

1. Iman kepada Allah s.w.t
2. Iman kepada Malaikat-malaikatNya
3. Iman kepada Nabi dan Rasul
4. Iman kepada Kitab-kitabNya
5. Iman kepada Hari Kiamat
6. Iman kepada Qada dan Qadar

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ


Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". Q.S Al-Baqarah (2): 285.

Menurut bahasa, Islam artinya "berserah diri kepada Tuhan". Sedangkan secara harfiyah artinya damai, selamat, tunduk, dan bersih.

Islam adalah agama yang hak. Agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Syarat pertama dan utama seseorang ingin memasuki surgaNya adalah dengan memeluk agama Islam. Islam dibangun atas lima perkara, jika salah satunya tidak ada, maka tidak sah keislaman seseorang.

Sabda Nabi saw., "Islam itu didirikan atas lima perkara." Iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)" (al-Fath: 4), "Kami tambahkan kepada mereka petunjuk."(al-Kahfi: 13), "Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk." (Maryam: 76), "Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya" (Muhammad: 17), "Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya" (al-Muddatstsir: 31), "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya." (at-Taubah: 124), "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka." (Ali Imran: 173), dan "Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (kepada Allah)." (al-Ahzab: 22) Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah adalah sebagian dari keimanan. (HR. Bukhari)

Rukun Islam ada 5, yaitu:

1. Syahadat
2. Shalat
3. Puasa
4. Zakat
5. Haji bila mampu


Iman dan Islam merupakan tanda bahwa orang tersebut beriman dan beramal shaleh, dengan iman ia akan meyakini dari lubuk hatinya yang terdalam, bahwa yang ghaib dan kebenaran tentang rukun Iman adalah benar adanya. Dia akan mengucapkan bahwa rukun Iman memang ada, dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: 
Nabi saw. bersabda: Islam dibangun di atas lima perkara, mengesakan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, puasa Ramadan dan menunaikan haji. (Shahih Muslim No.19)

Syahadat, merupakan tanda awal bahwa seorang manusia menganut agama Islam. Namun, untuk dapat memasuki surgaNya, tidaklah cukup, harus diimbangi dengan amal yang shaleh. Seperti shalat tepat pada waktunya dan tidak bolong-bolong. puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan bila mempunyai uang berlebih segera berangkat naik haji atau umrah dan tidak menunda-nundanya.

Iman dan Islam adalah hal yang saling berkaitan dan merupakan pokok dari apa yang diturunkan oleh Allah s.w.t dan diajarkan oleh Rasulullah s.a.w.

Note: Klik masing-masing judul untuk mengetahui lebih lanjut.